Bkxcp

1001 Cerita Sejarah

Tips Mengajar Agar Tidak Membosankan

cara mengajar

Dikutip https://happybet188.co/ Salah satu tantangan sebagai pengajar di pendidikan tinggi, apalagi untuk generasi milennials adalah bagaimana menanamkan kemampuan berpikir kritis dalam proses belajar mengajar di kelas. Seperti yang sudah saya tulis dalam artikel saya sebelumnya yang berjudul, “Bagaimana cara mengajar generasi millennials”, bahwa generasi yang sudah sangat mudah mencari informasi ini sudah bukan zamannya lagi ‘disuapi’ materi, tapi bagaimana mereka bisa belajar menyusun dan mengonstruksi pengetahuan yang ada menjadi sebuah hasil belajar yang bermakna.

Itulah mengapa saat ini, Student-Centered Learning sudah semakin relevan untuk diterapkan di dalam kelas. Perkuliahan yang tadinya berorientasi kepada guru / dosen yang memberikan informasi secara terus – menerus, haruslah berubah di mana dosen berposisi sebagai coach pendamping saat mahasiswa melakukan konstruksi informasi yang ada agar bisa mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Jika dosen tadinya banyak dan melulu memberi pernyataan, sekarang dosen lebih sering menggunakan pertanyaan untuk memicu mahasiswa agar dapat merekonstruksi pengetahuan itu menjadi suatu kesimpulan yang bermakna.

Sayangnya, masih banyak sekali kondisi dalam kelas yang ‘memaksa’ pembelajaran menggunakan Student-centered learning ini menjadi sulit untuk dilakukan, terutama apabila kelas yang diajar adalah kelas besar. Kelas yang memiliki kapasitas lebih dari 70 orang dalam satu kelas, umumnya hanya bisa dilakukan dengan ceramah atau lecture saja (kecuali jika ada bantuan asisten).

Beberapa tips yang umumnya saya lakukan agar kelas tidak bosan dan pembelajaran aktif tetap terjadi adalah dengan berinteraksi kepada mahasiswa dengan melempar pertanyaan, atau sebaliknya — saya meminta mahasiswa untuk mengkritisi dan bertanya terkait dengan materi untuk melatih mereka berpikir kritis.

Mengapa berpikir kritis? Penelitian dari Education Endownment Foundation (EEF) menyatakan bahwa menanamkan kemapuan berpikir kritis dan membantu mereka untuk bisa dan berani bertanya dapat meningkatkan hasil belajar secara signifikan 1. Dengan memicu mahasiswa untuk bertanya, maka mereka akan mengaktifkan aspek metacognition atau pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya agar dapat menyusun sebuah ruang pengetahuan yang belum terjawab, untuk kemudian dijadikan pertanyaan yang diajukan ke dalam kelas. Proses berpikir kritis itu diyakini dapat membuat materi pelajaran menjadi lebih diingat, terutama apabila menemukan jawaban yang tepat secara mandiri karena pertanyaan yang disusun oleh diri mereka sendiri.

Saat mengajar di kelas program Internasional Universitas Indonesia, dalam beberapa kesempatan saya mencoba untuk menawarkan kepada mahasiswa untuk memberikan pertanyaan kepada saya terkait materi yang sedang dibahas. Umumnya, yang sering mengacungkan tangan adalah mahasiswa asing (foreign students) dari negara lain, seperti tahun lalu saat saya mengajar mata kuliah psikologi industri dan organisasi misalnya, banyak pertanyaan yang muncul dari mahasiswa dari Jerman dan Perancis. Sementara, mahasiswa Indonesia sendiri seringkali lebih banyak yang pasif dan hanya mendengarkan saja. Jarang saya melihat satu kelas mahasiswa Indonesia yang bertanya lebih dari 10% isi kelas. Jika pun ada pertanyaan, kebanyakan pertanyaan adalah dari orang yang sama. Elu lagi, elu lagi, istilahnya.

Akhirnya, dalam beberapa waktu belakangan ini saya mencari cara bagaimana menumbuhkan atmosfir berpikir kritis di dalam kelas. Berpikir kritis ini setidaknya ditandai dengan aktifnya mahasiswa menjawab pertanyaan yang saya berikan di kelas, atau sebaliknya — mereka memberikan pertanyaan kepada saya. Apalagi setelah mengetahui bahwa proses berpikir kritis ini tidak diajarkan secara luas dan efisien di berbagai peruguran tinggi 2, membuat saya semakin tertarik untuk bereksperimen dalam menumbuhkan budaya aktif bertanya di dalam kelas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *